Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 468x60
Metropolitan

Hampir Tiga Dekade Mengabdi, Santo Terus Memperkuat Sistem Pengendalian Banjir Jakarta Selatan

140
×

Hampir Tiga Dekade Mengabdi, Santo Terus Memperkuat Sistem Pengendalian Banjir Jakarta Selatan

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Hampir Tiga Dekade Mengabdi, Santo Terus Memperkuat Sistem Pengendalian Banjir Jakarta Selatan

Oleh: Redaksi JAKberita.com
Jakarta – Di balik berbagai upaya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam mengurangi banjir dan genangan, terdapat para birokrat teknis yang bekerja tanpa banyak sorotan. Salah satunya adalah Santo, Kepala Suku Dinas (Sudin) Sumber Daya Air (SDA) Kota Administrasi Jakarta Selatan, yang telah mengabdikan hampir tiga dekade kariernya di bidang pengelolaan sumber daya air.
Berawal sebagai staf teknis di lingkungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada 1996, Santo menapaki jenjang karier secara bertahap hingga dipercaya memimpin Sudin SDA Jakarta Utara, Jakarta Timur, dan kini Jakarta Selatan. Rekam jejak tersebut menunjukkan pengalaman yang luas dalam menangani persoalan tata air di berbagai wilayah Ibu Kota.
Pengalaman yang Dibangun dari Lapangan
Berbeda dengan jabatan administratif semata, sebagian besar perjalanan karier Santo berada di bidang teknis. Ia pernah menjadi Kepala Seksi Perencanaan dan Pelayanan Masyarakat, Kepala Seksi Pemeliharaan Sistem Pengendali Banjir, hingga memimpin berbagai satuan kerja sumber daya air.
Pengalaman tersebut membentuk pemahaman menyeluruh mengenai karakter hidrologi Jakarta, mulai dari sistem drainase lingkungan, sungai, waduk, rumah pompa, pintu air, hingga jaringan saluran penghubung yang menjadi tulang punggung pengendalian banjir.
Kepercayaan untuk memimpin tiga wilayah administrasi berbeda menjadi indikator bahwa kompetensinya dinilai mampu menjawab tantangan pengelolaan sumber daya air di kawasan perkotaan yang kompleks.
Kepemimpinan yang Berorientasi Respons Cepat
Selama memimpin Sudin SDA Jakarta Selatan, salah satu pendekatan yang terlihat adalah penanganan laporan masyarakat secara cepat melalui sistem Citizen Relationship Management (CRM).
Salah satu contohnya adalah pembangunan saluran baru di kawasan Menteng Dalam, Setiabudi. Proyek tersebut merupakan tindak lanjut atas laporan warga mengenai saluran yang tidak lagi berfungsi optimal. Saluran baru sepanjang sekitar 30 meter dengan konstruksi U-Ditch dibangun untuk meningkatkan kapasitas aliran air sehingga diharapkan mampu mengurangi potensi genangan saat hujan.
Dalam kesempatan tersebut, Santo menegaskan bahwa penanganan dilakukan sebagai bentuk pelayanan kepada masyarakat agar sistem drainase kembali berfungsi dengan baik. Pendekatan seperti ini menunjukkan bahwa aduan masyarakat dijadikan dasar dalam menentukan prioritas pekerjaan lapangan.
Revitalisasi Drainase Menjadi Prioritas
Tidak hanya membangun saluran baru, Sudin SDA Jakarta Selatan juga melakukan revitalisasi saluran drainase di Jalan Menteng Atas Dalam dengan mengganti saluran lama menggunakan beton pracetak (U-Ditch) berkapasitas lebih besar.
Pekerjaan tersebut bertujuan meningkatkan kelancaran aliran air sekaligus mengurangi risiko genangan pada musim hujan. Santo menyatakan bahwa pelayanan yang cepat, efektif, dan berkelanjutan merupakan komitmen instansinya dalam memberikan manfaat nyata kepada masyarakat.
Pemeliharaan Infrastruktur Tidak Pernah Berhenti
Selain pembangunan baru, pekerjaan yang tidak kalah penting adalah pemeliharaan infrastruktur yang telah ada.
Salah satu kegiatan yang dilakukan ialah pengerukan sedimen dan sampah di Kali Cideng sebagai bagian dari upaya menjaga kapasitas aliran sungai. Sudin SDA Jakarta Selatan mencatat telah mengangkat sekitar 2.428 meter kubik sedimen dan sampah dari segmen Kali Cideng untuk mengurangi pendangkalan dan mendukung upaya pencegahan banjir.
Kegiatan seperti ini sering kali tidak terlihat oleh masyarakat, namun memiliki peran penting dalam menjaga fungsi sistem pengendalian banjir agar tetap optimal.
Tantangan Jakarta Selatan
Jakarta Selatan memiliki karakteristik yang berbeda dibanding wilayah lain. Kawasan ini dilalui sejumlah sungai penting seperti Ciliwung, Krukut, Mampang, dan Pesanggrahan, serta memiliki kawasan permukiman padat yang membutuhkan sistem drainase yang andal.
Perubahan tata guna lahan, pertumbuhan kawasan terbangun, dan meningkatnya intensitas hujan akibat perubahan iklim menjadi tantangan yang memerlukan kombinasi antara pembangunan infrastruktur, pemeliharaan rutin, dan koordinasi lintas instansi.
Dalam konteks tersebut, peran Sudin SDA tidak hanya membangun saluran atau mengoperasikan rumah pompa, tetapi juga memastikan seluruh sistem bekerja secara terpadu.
Kepemimpinan Berbasis Pengalaman
Perjalanan karier Santo yang dimulai dari tingkat staf hingga memimpin Sudin SDA di beberapa kota administrasi menunjukkan pentingnya pengalaman teknis dalam birokrasi.
Model kepemimpinan seperti ini memungkinkan proses pengambilan keputusan didasarkan pada pemahaman lapangan, bukan hanya pertimbangan administratif.
Bagi masyarakat, keberhasilan pengelolaan sumber daya air tidak selalu diukur dari besarnya proyek yang dibangun, melainkan dari berkurangnya genangan, meningkatnya keandalan drainase, serta cepatnya respons terhadap kebutuhan warga.
Ke depan, tantangan pengelolaan sumber daya air diperkirakan akan semakin kompleks. Karena itu, keberlanjutan program pemeliharaan, peningkatan kapasitas drainase, pemanfaatan teknologi, dan kolaborasi dengan masyarakat akan tetap menjadi kunci dalam mewujudkan Jakarta Selatan yang lebih tangguh terhadap banjir.
Dengan pengalaman hampir tiga dekade di bidang sumber daya air, Santo membawa modal penting dalam mengawal upaya tersebut melalui penguatan pelayanan publik, pemeliharaan infrastruktur, dan penanganan drainase yang berkesinambungan.

Example 300250
Example 120x600