Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 468x60
ArtikelBerita

Prabowo Subianto dan Pemaknaan Ajaran Islam dalam Kekuasaan

157
×

Prabowo Subianto dan Pemaknaan Ajaran Islam dalam Kekuasaan

Sebarkan artikel ini
Benz Jono Hartono
Example 468x60

Prabowo Subianto dan Pemaknaan Ajaran Islam dalam Kekuasaan

 

Oleh: Benz Jono Hartono — Praktisi Media Massa, Wadir CAJ PWI Pusat, Waketum SMSI Pusat

Example 300x600

JAKARTA — Islam bukan sekadar agama soal hubungan manusia dengan Tuhan, melainkan jalan hidup yang mengatur keseluruhan kehidupan: hubungan dengan Allah, sesama, lingkungan, serta tata kelola sosial berbasis keadilan, amanah, kemanusiaan, dan tanggung jawab. Keislaman tidak cukup hanya diakui dalam identitas — ia harus tampil dalam perilaku: kejujuran, keadilan, kasih sayang, kepedulian pada yang lemah.

Bagi seorang pemimpin, pertanyaannya bukan sekadar “apakah saya Muslim?” melainkan “apakah kekuasaan yang saya jalankan menghasilkan keadilan sesuai nilai Islam?”

(Screenshot) peluncuran buku Islam ala Prabowo

Prabowo: Menjalankan Nilai, Bukan Menetapkan Ajaran
Prabowo Subianto memegang amanah sebagai Presiden. Namun, pemaknaan Islam tidak ditentukan sesuka seseorang — Islam berpijak pada Al-Qur’an, Sunnah, dan warisan keilmuan ulama. Pemimpin boleh menerjemahkan nilai Islam ke dalam kebijakan, tetapi tidak berwenang mengubah ajaran sesuai kepentingan kekuasaan. Islam tidak boleh dijadikan alat membenarkan kekuasaan; justru kekuasaan harus tunduk pada nilai moral: amanah, keadilan, kejujuran, kemaslahatan.

Tanpa Paksaan, Tetap Ada Konsekuensi
Islam mengajarkan kebebasan beriman, tanpa paksaan. Namun setiap pilihan punya akibat: dibangun di atas kejujuran dan keadilan lahir kemaslahatan; di atas keserakahan dan kebohongan datang kehancuran moral. Yang penting bukan label “Islam”, melainkan apakah nilai yang dijalankan sejalan dengan keadilan dan kemanusiaan Islam.

Nabi Muhammad SAW telah memberi teladan: tak sekadar mengajarkan ibadah, tetapi juga kejujuran, perlindungan kaum lemah, amanah memimpin, dan penyelesaian konflik. Tantangan masa kini bukan menyalin masa lalu, melainkan menerapkan nilai universal Islam secara bijak pada persoalan saat ini.

Kekuasaan Adalah Amanah, Bukan Milik
Presiden memegang amanah rakyat yang kelak dipertanggungjawabkan. Keberhasilan kepemimpinan tak hanya diukur dari infrastruktur atau angka ekonomi, melainkan: apakah rakyat diperlakukan adil? Hukum berlaku sama? Yang lemah dilindungi? Korupsi diberantas? Kekayaan dikelola untuk semua? Di sinilah nilai Islam terasa nyata.

Bahaya Simbol di Atas Kebenaran
Risiko terbesar adalah Islam dipakai menutupi perilaku bertentangan dengannya: kebohongan dibenarkan, ketidakadilan disembunyikan, korupsi dibungkus pembangunan. Pemimpin Muslim wajib dikritik — kritik bukan penghinaan, melainkan pengawasan amanah. Al-Qur’an mengingatkan: manusia bisa lebih sesat dari hewan jika tak memakai hati, mata, telinga untuk kebenaran. Kemajuan materi tak menjamin kemuliaan; kerusakan moral adalah ancaman terbesar bangsa.

Memimpin dengan Teladan, Bukan Pemaksaan
Prabowo memimpin bangsa beragam. Penerapan nilai Islam harus bijak, menghormati konstitusi dan kemajemukan. Islam tak perlu dipaksakan — ia hadir lewat teladan: keadilan nyata, negara hadir bagi yang lemah, hukum sama bagi semua.

Penutup
Pada akhirnya, keislaman kepemimpinan bukan diucapkan, melainkan diperbuat. Islam hidup dalam akhlak, keadilan, kejujuran, dan tanggung jawab. Ukuran Prabowo bukan seberapa sering nama Islam disebut, melainkan seberapa jauh rakyat merasakan keadilan, kesejahteraan, dan kemanusiaan. Jabatan berakhir, sejarah mencatat, dan setiap pemimpin akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. (jb)

Example 300250
Example 120x600