Menguak Misteri Susuk: Antara Mitos Aura Pemikat, Hukum Agama, dan Bahaya Medis
Oleh : R.Y.Untoro
Diteengah laju modernisasi dan kecanggihan teknologi, sebagian masyarakat Indonesia rupanya masih menaruh kepercayaan pada tradisi spiritual leluhur. Salah satu fenomena mistis yang tetap eksis dan mengundang rasa penasaran hingga hari ini adalah praktik pemasangan susuk.
Secara umum, susuk adalah proses memasukkan benda asing berukuran mikro ke dalam jaringan kulit atau otot manusia. Media yang digunakan bervariasi, mulai dari jarum emas, berlian, intan, hingga bagian tubuh hewan tertentu. Proses spiritual ini biasanya melibatkan ritual khusus atau perapalan mantra oleh seorang dukun, paranormal, atau ahli spiritual guna mengaktifkan energi di dalam benda tersebut.
Namun, di balik klaim khasiatnya yang menggiurkan, bagaimana fenomena ini dilihat dari kacamata spiritual, syariat agama, hingga sains modern?
Manfaat Susuk yang Umum Diketahui Masyarakat
Berdasarkan kepercayaan turun-temurun, susuk tidak dipasang sembarangan, melainkan untuk mencapai tujuan-tujuan duniawi tertentu. Berikut adalah beberapa manfaat utama yang membuat susuk masih diburu:
1. Meningkatkan Daya Tarik dan Aura Pengasihan
Ini adalah motif paling populer di kalangan pengguna susuk. Susuk emas, intan, dan berlian dipercaya mampu memancarkan energi positif atau “aura” pemikat. Penggunanya diyakini akan terlihat jauh lebih menarik, mempesona, dan menawan secara visual di mata orang yang memandangnya.
2. Kewibawaan dan Karisma Sosial
Tidak hanya untuk urusan asmara, susuk juga kerap dikaitkan dengan karier dan status sosial. Tokoh masyarakat, pemimpin, atau kalangan tertentu sering memanfaatkan susuk kewibawaan agar setiap perkataan mereka didengar, disegani, dihormati, dan dipatuhi oleh orang lain.
3. Pelarisan Bisnis dan Usaha
Dalam dunia perdagangan, susuk dipercaya bisa menjadi magnet rezeki. Pengusaha atau pedagang yang memasang susuk berharap tempat usahanya menjadi lebih ramai, memikat hati pelanggan baru, serta mendatangkan keuntungan yang melimpah secara instan.
4. Perlindungan Diri (Benteng Gaib)
Beberapa jenis susuk berbahan keras seperti besi atau raksa sengaja ditanam untuk fungsi proteksi fisik dan mental. Penggunanya diyakini akan kebal dari serangan fisik maupun serangan gaib seperti santet, guna-guna, dan pelet.
Agar khasiat ini tidak hilang, pengguna susuk harus mematuhi berbagai pantangan ketat yang berlaku di masyarakat, seperti dilarang mengonsumsi pisang emas, daun kelor, sate langsung dari tusuknya, hingga dilarang berjalan di bawah jemuran baju.
Sudut Pandang Agama: Hukum dan Pandangan Spiritual
Meskipun menjanjikan hasil instan bagi penampilan dan nasib seseorang, praktik pemasangan susuk ditentang keras dalam pandangan agama, khususnya Islam yang menjadi mayoritas di Indonesia.
1. Masuk dalam Kategori Syirik (Menyekutukan Tuhan)
Proses pengaktifan susuk hampir selalu melibatkan bantuan jin atau kekuatan gaib melalui perantara dukun. Menggantungkan nasib, kecantikan, rezeki, atau keselamatan pada kekuatan benda selain Tuhan dianggap sebagai perbuatan syirik—salah satu dosa terbesar dalam Islam yang menghapus amal ibadah.
2. Mengubah Fitrah Ciptaan Tuhan
Secara syariat, memasukkan benda asing ke dalam tubuh demi mengubah penampilan luar agar terlihat lebih rupawan tanpa ada alasan medis darurat (seperti operasi rekonstruksi akibat kecelakaan) dinilai sebagai bentuk ketidakbersyukuran dan tindakan mengubah fitrah ciptaan Tuhan yang dilarang.
3. Mitos Sulitnya Proses Kematian
Di tengah masyarakat, melekat erat sebuah keyakinan bahwa pengguna susuk akan mengalami proses sakaratul maut yang panjang dan sangat menyakitkan. Secara spiritual, susuk tersebut dipercaya harus dikeluarkan terlebih dahulu dari tubuh pengguna oleh ahlinya agar jiwanya dapat pergi dengan tenang.
Sudut Pandang Medis: Risiko Kesehatan dan Anatomi
Dari kacamata sains dan kedokteran modern, susuk dinilai murni sebagai tindakan memasukkan benda asing (foreign body) secara ilegal ke dalam jaringan tubuh. Tindakan non-medis ini membawa berbagai risiko kesehatan yang sangat serius.
1. Risiko Infeksi Akut dan Penolakan Tubuh
Pemasangan susuk umumnya dilakukan tanpa prosedur sterilisasi standar rumah sakit. Memasukkan logam atau batu ke dalam kulit menggunakan alat tidak steril berisiko tinggi memicu infeksi bakteri berbahaya. Selain itu, sistem imun manusia secara alami akan mendeteksi susuk sebagai ancaman, yang dapat menyebabkan peradangan kronis hingga pembentukan jaringan parut (fibrosis).
2. Bahaya Migrasi Benda Asing (Berpindah Tempat)
Benda mikro yang ditanam di dalam jaringan kulit atau otot wajah tidak selalu berdiam di posisi semula. Akibat pergerakan otot wajah sehari-hari saat berbicara atau mengunyah, susuk dapat bergeser (migrasi). Jika susuk berpindah mendekati pembuluh darah besar atau menekan jaringan saraf, hal ini bisa memicu komplikasi fatal seperti kelumpuhan otot wajah hingga mati rasa.
3. Ancaman Cedera Hebat saat Pemeriksaan MRI
Ini adalah salah satu bahaya laten yang paling sering ditemukan oleh para dokter. Jika suatu hari pasien pengguna susuk medis harus menjalani pemeriksaan Magnetic Resonance Imaging (MRI), gelombang magnetik kuat dari mesin tersebut dapat menarik atau memanaskan material logam di dalam kulit. Hal ini berisiko menyebabkan robekan jaringan dalam yang parah atau luka bakar internal yang hebat.
Kesimpulan
Fenomena susuk membuktikan bahwa sebagian masyarakat masih mencari jalan pintas spiritual demi mendapatkan kepercayaan diri, kesuksesan, dan daya pikat. Namun, kecantikan atau karisma yang didapat dari susuk nyatanya harus dibayar mahal dengan pelanggaran hukum agama serta ancaman bahaya kesehatan yang nyata di masa depan. Pada akhirnya, pancaran aura terbaik sejatinya lahir dari kesehatan tubuh yang dirawat dengan benar secara medis serta kebersihan hati yang dijaga melalui nilai-nilai keagamaan.(*)










