Qodari Heran Indonesia Impor Batu Bara dari AS Padahal Eksportir Terbesar Dunia
_Kesepakatan Tarif 2026 Dinilai “Tak Ekonomis”, Tapi Jadi Syarat Turunkan Tarif Ekspor ke AS_
JAKARTA – jakberita.com
Pengamat politik sekaligus Direktur Eksekutif Indo Barometer, Burhanuddin Muhtadi Qodari, menyoroti kebijakan pemerintah yang mewajibkan Indonesia mengimpor batu bara dari Amerika Serikat. Padahal, Indonesia dikenal sebagai eksportir batu bara terbesar di dunia.
“Ini aneh. Kita negara pengekspor batu bara terbesar, kok malah impor dari AS,” ujar Qodari dalam keterangannya, Senin 20 April 2026.
Kebijakan tersebut merupakan bagian dari _Agreement on Reciprocal Trade_ antara Indonesia dan AS yang ditandatangani saat kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Washington DC pada 19 Februari 2026.
Dalam dokumen kesepakatan yang dirilis White House, Indonesia berkomitmen untuk “mendukung dan memfasilitasi” impor komoditas energi dari AS senilai *US$ 15 miliar*. Rinciannya meliputi impor LPG US$3,5 miliar, minyak mentah US$4,5 miliar, bensin olahan US$7 miliar, serta peningkatan impor *batu bara metalurgi/kokas*.
Bukan Batu Bara Termal, Tapi Batu Bara Kokas
Menurut data, Indonesia memang masih mengimpor sekitar 80% kebutuhan batu bara kokas untuk industri baja. Berbeda dengan batu bara termal untuk PLTU, batu bara kokas memiliki nilai kalori sangat tinggi dan merupakan bahan baku vital industri baja.
Pemerintah menyebut peningkatan impor ini untuk “mendukung pembuatan baja, industrialisasi lokal, dan keandalan serta keamanan energi”.
Namun, Indonesian Mining & Energy Forum (IMEF) menilai keharusan impor dari AS “sangat tak ekonomis”. Ketua IMEF Singgih Widagdo menyebut biaya pengapalan dari AS tinggi. “Jadi jika diletakkan pada satu sisi batu bara kokas semata, sangat tidak ekonomis jika harus diimpor dari AS,” kata Singgih.
Singgih menambahkan, Indonesia akan lebih diuntungkan jika impor dari Australia.
Tukar Guling: Impor Energi vs Tarif Ekspor 0%
Para analis menilai kesepakatan ini sebagai strategi diplomasi ekonomi. Imbalannya, produk unggulan Indonesia seperti sawit, kopi, dan kakao mendapatkan keringanan tarif masuk ke pasar AS hingga 0%.
“Pemerintah lebih menghitung pada keseluruhan bisnis dalam upaya menurunkan tarif ekspor ke AS,” jelas Singgih.
Kementerian ESDM juga memastikan kebijakan ini tidak menambah total impor energi, melainkan hanya “switch tempat” dari negara lain ke AS.
Selain komoditas, kesepakatan juga mendorong Indonesia menggunakan teknologi batu bara canggih dari AS. Padahal, Singgih menilai teknologi hilirisasi batu bara yang berkembang saat ini justru lebih banyak dari China dan lebih murah.
Hingga berita ini diturunkan, implementasi teknis kesepakatan masih dimatangkan oleh kementerian terkait. Sementara itu Sekjen Koalisi Pembela Konstitusi dan Kebenaran (KPK&K) Suta Widhya, S.H. mengherani adanya niat menjual listrik ke Singapura.
“listrik dalam negeri mengalami pemadaman bergilir. Ini menandakan bahwa Prabowo lebih memikirkan bangsa lain dibanding bangsanya sendiri. Dengan kata lain ia sudah melanggar sumpah jabatan, ” Kata Suta, Sabtu (11/7) sore di Surabaya.
Suta berharap temuan harta kekayaan yang diduga milik pertinggi Kejagung RI diperiksa lebih mendalam. Jangan-jangan ada korelasinya dengan kelangkaan baru bara di dalam negeri saat ini.
“Rezim Prabowo sebaiknya menerapkan buku Sistem Pembelenggu Moral Koruptor dalam menjalankan roda pemerintahan. Di situ seluruh kekayaan warganegara dipantau oleh negara tanpa kecuali. Dan tidak satupun warganegara yang tidak punya penghasilan, karena biaya hidup ditanggung oleh negara, “lanjut.
Dirinya yakin apabila dipercaya menjadi Presiden RI tahun 2029 Indonesia akan sejajar dengan Rusia, Amerika dan Clna. Hal itu semua karena menjalankan isi buku Sistem Pembelenggu Moral Koruptor.
” Tidak akan ada lagi koruptor di Indonesia, meski ia seorang presiden sekali pun. Karena telah menjalankan IT dengan teknologi modern. Semua transaksi keuangan terpantau lewat pengawasan elektronik. Mirip dengan Google map yang tahu segala jalan di negeri ini, “tutup Suta.
Editor: R.Y.Untoro












