Kabupaten Bogor -jakberita.com| Praktisi hukum dan Ketua Umum Jurnalis Kritis Independen (JKI), Suta Widhya, S.H. melontarkan kritik keras kepada Wakil Bupati Bogor, Ade Ruhandi alias Jero Ade.
Menurut Suta, Jero Ade yang dulu begitu dekat dengan rakyat saat masih berjuang di bawah, kini berubah total setelah duduk di kursi Wakil Bupati Bogor. Janji-janji manis saat kampanye dan saat meminta dukungan konstituen, kini tidak lagi terdengar kabarnya.
“Dulu, Jero Ade datang ke kampung-kampung, salaman, makan lesehan sama rakyat, janji mau perjuangkan jalan, air, dan kesejahteraan. Setelah terpilih jadi Wabup, konstituennya dilupakan. Jangankan datang, dihubungi saja sulit,” tegas Suta Widhya di Bogor, Rabu (21/10/2026) sore.
BUKAN HANYA WARGA LEUWISADENG, PERWAKILAN AGAMA PUN DITINGGALKAN
Suta menegaskan, keluhan ini bukan hanya datang dari warga di Leuwisadeng, Nanggung, Cigudeg, dan Jasinga yang menjadi basis suara terbesarnya.
Perwakilan tokoh agama pun mengalami hal yang sama. Salah satunya, Ibu Setiawaty Mardalena, perwakilan agama dari Jalan Raya Pemda Pasir Jambu, Kabupaten Bogor. Beliau adalah salah satu tokoh yang dulu aktif membantu dan mendukung Jero Ade saat masih membutuhkan suara konstituen.
“Beliau cerita ke saya, dulu sebelum menjabat, Jero Ade rajin datang, rajin telepon, minta dukungan dan doa. Setelah menjadi Wabup, jangankan datang, ditelpon pun tidak pernah menjawab. Ini bukan hanya soal saya, ini soal tokoh agama pun diperlakukan sama,” ungkap Suta.
Fakta ini, kata Suta, membuktikan bahwa persoalan ini bukan sekadar masalah warga satu kecamatan, tapi sudah menjadi pola perilaku pejabat yang lupa pada konstituennya setelah berkuasa.
“Kalau perwakilan agama saja yang dulu mendukungnya bisa ditinggalkan, apalagi rakyat kecil yang tidak punya akses apa-apa? Ini memalukan,” lanjut Suta.
TIGA FAKTA YANG DISOROT JKI:
1. Konstituen di Bogor Barat Ditinggalkan
Masyarakat di wilayah Leuwisadeng, Nanggung, Cigudeg, dan Jasinga hingga hari ini mengaku tidak pernah lagi didatangi. Keluhan soal jalan rusak, air bersih, dan konflik tanah tidak pernah direspon.
2. Janji Kampanye Hanya Jadi Kenangan
Saat kampanye, Jero Ade berjanji akan menjadi Wabup yang merakyat dan membuka pintu pendopo untuk rakyat kecil. Kenyataannya, rakyat kecil yang datang ke Pendopo justru sulit bertemu, harus lewat protokol berlapis, dan ujungnya hanya disuruh menunggu.
3. Lebih Sibuk Pencitraan Daripada Turun ke Lapangan
Jero Ade kini lebih sering terlihat di acara seremonial dan foto-foto bersama pejabat, ketimbang turun ke sawah, ke pasar, dan ke kampung-kampung seperti dulu. Konstituennya hanya jadi penonton di media sosial.
TUNTUTAN JKI:
1. Meminta Jero Ade segera kembali turun ke konstituen di Bogor Barat dan Pasir Jambu, dengarkan langsung keluhan mereka.
2. Meminta Wabup menghubungi kembali dan meminta maaf kepada Ibu Setiawaty Mardalena dan para tokoh agama yang telah mendukungnya.
3. Meminta Wabup membuka forum dialog rutin bulanan dengan rakyat, bukan hanya dengan pengusaha dan pejabat.
4. Meminta Bupati Bogor untuk menegur dan mengevaluasi kinerja Wakil Bupati yang dinilai tidak lagi merakyat.
“Sebelum menjabat butuh suara kami, setelah menjadi wabup ditelpon pun tidak pernah menjawab,” tutup Suta Widhya. (jb/red)


