Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 468x60
BeritaMetropolitan

Apa itu RDF Refuse Derived Fuel

74
×

Apa itu RDF Refuse Derived Fuel

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Jakarta -jakberita.com | RDF adalah singkatan dari Refuse Derived Fuel.
Ini adalah bahan bakar yang dihasilkan dari pengolahan sampah (terutama sampah kota/municipal solid waste) yang sudah dipilah, dikeringkan, dan dipadatkan.

RDF biasanya berbentuk pelet, briket, atau fluff yang bisa digunakan sebagai bahan bakar alternatif di industri, seperti pabrik semen, pembangkit listrik, atau fasilitas industri lainnya.
Cara kerjanya secara sederhana
Sampah dipilah (dipisahkan dari bahan yang tidak bisa dibakar atau berbahaya).
Bahan yang mudah terbakar (plastik, kertas, kain, kayu, dll.) diolah lebih lanjut.
Sampah tersebut dikeringkan dan dicacah/dipadatkan menjadi bahan bakar padat.
Hasilnya (RDF) kemudian dibakar untuk menghasilkan energi panas atau listrik.

Example 300x600

Keunggulan RDF
Mengurangi volume sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Menghasilkan energi alternatif, sehingga bisa mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Lebih ramah lingkungan dibandingkan pembakaran sampah langsung (open burning), karena prosesnya lebih terkontrol.

Konteks di Jakarta
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengembangkan fasilitas pengolahan sampah berbasis teknologi RDF, antara lain di Bantargebang (Bekasi) Rorotan (Jakarta Utara) Fasilitas ini menjadi alternatif atau pelengkap dari rencana proyek ITF (Intermediate Treatment Facility) yang sebelumnya digarap Jakpro di Sunter. Karena proyek ITF Sunter mengalami ketidakpastian, Pemprov lebih mendorong pengembangan RDF sebagai solusi pengolahan sampah yang lebih cepat diwujudkan.
Jadi, RDF adalah salah satu teknologi pengolahan sampah modern yang mengubah sampah menjadi bahan bakar, sedangkan ITF lebih merujuk pada fasilitas pengolahan sampah antara secara keseluruhan (yang bisa menggunakan berbagai teknologi, termasuk RDF atau yang lain).

RDF (Refuse Derived Fuel) sudah digunakan di Indonesia
Teknologi ini sudah diterapkan secara nyata, terutama sebagai bahan bakar alternatif di industri semen, dan terus dikembangkan di beberapa daerah.
Contoh implementasi yang sudah berjalan
Cilacap, Jawa Tengah Salah satu yang paling awal.

Fasilitas RDF di Jeruklegi (Kabupaten Cilacap) sudah beroperasi sejak sekitar 2020. Hasil RDF-nya digunakan di pabrik semen PT Solusi Bangun Indonesia.
Bantargebang (Bekasi) – DKI Jakarta
Fasilitas RDF di TPST Bantargebang sudah beroperasi sejak awal 2023. Kapasitasnya mengolah sampah (baik sampah baru maupun lama) dan menghasilkan ratusan ton RDF per hari. Produknya dipasok ke pabrik semen seperti PT Indocement dan PT Solusi Bangun Indonesia.
Rorotan, Jakarta Utara
Fasilitas RDF Rorotan mulai beroperasi secara bertahap sejak akhir 2025 / awal 2026. Kapasitas desainnya besar (hingga 2.500 ton sampah per hari) dan menghasilkan RDF yang juga diserap industri semen (utamanya Indocement). Operasionalnya ditingkatkan secara bertahap sambil memperhatikan aspek lingkungan.

Bagaimana Dengan Daerah lain

Ada inisiatif dan uji coba di Bali (Klungkung – gasifikasi RDF), Lombok Barat, Banyuwangi, serta rencana/perluasan di Cirebon, Tuban, Bogor, Depok, dan beberapa daerah lainnya.
Industri semen seperti SCG (PT Semen Jawa) juga aktif menggunakan RDF dan menargetkan porsi bahan bakar alternatif yang lebih tinggi.

Pengguna utama
Saat ini industri semen menjadi offtaker (pembeli) utama RDF di Indonesia. RDF digunakan untuk menggantikan sebagian batu bara dalam proses produksi semen. Ada juga uji coba pemanfaatan di pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).
Pemerintah mendorong pengembangan RDF sebagai bagian dari strategi pengelolaan sampah nasional (Jakstranas) dan upaya mengurangi ketergantungan pada TPA serta mendukung transisi energi. Meskipun demikian, sebagian fasilitas masih dalam tahap peningkatan kapasitas atau pilot project, dan isu lingkungan (seperti bau) tetap menjadi perhatian di beberapa lokasi.
Singkatnya, RDF sudah bukan sekadar konsep di Indonesia — sudah ada yang beroperasi dan menghasilkan produk yang benar-benar digunakan industri.

Proses pengolahan sampah menjadi RDF (Refuse-Derived Fuel) di fasilitas modern seperti RDF Plant Rorotan dan Bantargebang dilakukan secara mekanis dan biologis yang bergerak cepat agar sampah tidak membusuk dan menimbulkan bau.
Berikut adalah tahapan lengkap perjalanan sampah dari awal tiba hingga menjadi bahan bakar padat:
1. Penerimaan Sampah & Jembatan Timbang
    • Truk kompaktor sampah yang tiba dari berbagai wilayah Jakarta harus melewati jembatan Timbang terlebih dahulu. Proses ini bertujuan mencatat berat kotor sampah yang masuk secara akurat.
    • Di area ini, truk juga melewati pembuangan air lindi (air sampah) dan pengecekan kebersihan sebelum membongkar muatan.

2. Penumpukan di Bunker Udara Negatif (Negative Pressure)
    • Sampah ditumpahkan ke dalam bunker penampung raksasa (loading area) di dalam hanggar tertutup.
    • Karena sampah Jakarta memiliki kadar organik tinggi yang mudah membusuk, hanggar ini menggunakan teknologi tekanan udara negatif (negative pressure) dan sistem penyemprot kabut kimia (deodorizer) untuk mengunci dan menetralkan bau agar tidak mencemari pemukiman sekitar.

3. Pemilahan Awal & Pemisahan Material (Mekanis)
    • Sampah dialirkan melalui ban berjalan (conveyor belt) menuju mesin pemilah (shredder awal dan disc screen).
    • Pemisahan Magnetik: Sampah dilewatkan di bawah magnet raksasa untuk menangkap material logam (paku, kaleng, besi) agar tidak merusak mesin cacah di tahap berikutnya.
    • Pemisahan Manual & Sensor: Sampah-sampah berukuran terlalu besar, batu, kaca, beling, dan limbah B3 disingkirkan karena termasuk kategori incombustible (tidak dapat dibakar).
    • Hanya sampah combustible (mudah terbakar) seperti plastik tipis, kertas, sisa kain, karet, dan dedaunan yang lanjut ke tahap berikutnya. 

4. Pencacahan Awal (Primary Shredding)
    • Sampah yang sudah lolos seleksi dimasukkan ke dalam mesin pencacah kasar berdaya torsi tinggi.
    • Di tahap ini, kantong-kantong plastik dirobek dan semua sampah dicacah menjadi potongan berukuran kasar (sekitar 10 cm x 10 cm).

5. Pengurangan Kadar Air (Biodrying / Pengeringan)
    • Karakteristik sampah Jakarta umumnya sangat basah dengan kadar air mencapai 50–60%. Sementara industri semen membutuhkan RDF dengan kadar air di bawah 20%.
    • Sampah disemprot dengan cairan mikroba bioaktivator, lalu ditumpuk dalam guludan (lajur-lajur panjang) untuk dikeringkan secara alami melalui proses fermentasi biologis (biodrying) atau dimasukkan ke dalam mesin dehidrator mekanis untuk memeras airnya. 

6. Pencacahan Akhir (Secondary Shredding) & Pemadatan
    • Setelah sampah benar-benar kering, material tersebut dimasukkan ke mesin pencacah akhir (fine shredder) untuk dipotong menjadi serpihan halus berukuran homogen di bawah 5 cm x 5 cm.
    • Serpihan kering ini kemudian dipadatkan (bisa berupa butiran curah kasar atau dicetak menjadi briket/pelet). 

7. Pengemasan & Pengiriman (Offtaker)
    • Produk akhir RDF dikemas di area bagging atau langsung dimuat ke dalam truk kontainer.
    • Produk RDF yang sudah jadi ini tidak lagi berbau busuk dan siap dikirim ke pabrik semen mitra (seperti PT.Indocement atau PLTU sebagai bahan bakar alternatif pengganti batu bara. (jb/red)

Example 300250
Example 120x600
Example 300x250
Example 300x250